Rabu, 21 Desember 2016

Islam dan Dunia Kontemporer

Islam dan Dunia Kontemporer

Segala puji bagi Allah Subhânahû wa Ta`âlâ yang telah memberikan karunia dan rahmat-Nya keada penulis, hingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tugas kelompok  METODELOGI STUDI ISLAMdengan judul "ISLAM DAN DUNIA KONTEMPORER". Karya sederhana ini penulis susun dalam rangka memenuhi salah satu tugas kelompok Ilmu akhlak dan tasawuf 
Penulis menyadari, bahwa karya tulis ini tidak dapat diselesaikan tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang memberikan kontribusi dan dukungan dalam penyusunan karya tulis ini. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1.       Dosen-dosen yang telah memberikan ilmu dan pendidikan yang berharga pada penulis.
2.       Staf administrasi yang telah membantu penulis dalam merampungkan karya tulis ini.
3.       Akhirnya, secara khusus lagi, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada ayahanda dan ibunda, yang telah tidak henti-hentinya memberikan semangat, doa dan selalu memotivasi penulis dalam penulisan karya tulis ini.
Tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Demikian pula dengan penulisan makalah ini. Kritik dan saran sangatlah penulis harapkan dan dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung. Semoga karya tulis ini menjadi tambahan khazanah pengetahuan bagi siapa pun yang membacanya.
  






Islam adalah agama yang merespon tradisi dan mempertahankan modernisasi pada setiap detik perubahan yang dialami oleh zaman, Dengan respon yang berbeda-beda pada setiap pemikiran umatnya.
Terdapat berbagai macam pemahaman terhadap perkembangan islam di dunia kontemporer, ada yang beranggapan bahwa kurangnya perkembangan islam dalam dunia teknologi dan ilmu pengetahuan disebabkan karena ketentuan tuhan, adapun yang beranggapan lain yang akan dibahas di dalam makalah ini.
Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang islam dan dunia kontemporer yang akan dijabarkan dari berbagai macam sudut pandang.

1.       Apakah respon islam terhadap tradisi di indonesia pada zaman sekarang ?
2.       Apakah reaksi pemikiran islam terhadap era globalisasi ?
1.       Mahasiswa dapat mengetahui islam terhadap tradisi di indonesia pada zaman sekarang.
2.       Mahasiswa dapat mengetahui reaksi pemikiran islam terhadap era globalisasi.
Makalah ini membahas islam dan dunia kontemporer yang dibatasi sampai respon islam terhadap tradisi di Indonesia serta pemikiran-pemikiran islam terhadap globalisasi tersebut dengan ilmu-ilmu lain.
BAB II
PEMBAHASAN
Meskipun islam datang dan berkembang di indonesia lebih darilima abad, pemahaman dan penghayatan keagamaan kita masihcenderung sinkretik, tarik-menarik antara nilai-nilai luhurislam dengan budaya lokal.            Di Indonesia terdapat dua penelitian yang dilakukan secara mendalamyang menjelaskan hubungantradisi lokal dengan islam. Dalam dua karya tersebut dielaborasi tradisi yang berkembang ketika itu. Clifford Geertz (1964: 16-25), misalnya menggambarkan masyarakatpada kepercayaan metafisik, sepertimemedi, lelembut dan demit (dedemit, sunda), disamping itu juga ia menjelaskan tentang adat-adat upacara atau selametan.
            Secara sederhana dengan mengutip Cilford Geertz yang di sederhanakan oleh Christian Snoick Hurgronje, Howard M. Federspiel (1996:90), menjelaskan bahwa selametan bisa diberikan hampir pada setiap peristiwa.
2.2   Reaksi pemikiran islam terhadap globalisasi
Kebanyakan umat islam banyak yang sangat terlambat dalam mengikuti perkembangan tekhnologi, karena rendah dalam penguasaan sains dan tekhnologi, umat islam menjadi kelompok yang terbelakang. Sedangkan di sisi lain, umat agama lain begitu maju dengan berbagai tekhnologi masa kini, dari tekhnologi pengamatan terhadap luar angkasa hingga pertanian.atas dasar itulah terjadi berbagai reaksi terhdap kemajuan umat-umat agama lain.
Reaksi tersebut bisa di bedakan menjadi 4, yaitu tradisionalis, modernis, revivalis dan transformatif.
1.       Tradisionalis
Pemikiran tradisionalis percaya bahwa kemunduran umat islam adalah ketentuan dan rencana tuhan. Kemunduran atau kemajuan dainilai sebagai “ujian” atas keimanan dan kita tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadidi balik kemajuan dan kemunduran umat manusia.
2.       Modernis
Kaum modernis percaya bahwa keterbelakangan umat islam disebabkan oleh kesalahan sikap menthal, budaya, atau teologi mereka. Mereka menyerang teologi sunni (asy’ariyah) yang dijuluki sebagai teologi fatalistik. (manshour faqih dalam ullumul qur’an, 1997: 1)
Asumsi dasar kaum modernis adalah bahwa keterbelakangan umat islam karena merka melakukan sklarisasi terhadap semua bidang kehidupan. Asumsi tersebut pada dasarnya sejalan dengan aliran developmentalisme yang beranggapan bahwa kemunduran umat islam di indonesia karena mereka tidak mampu berpartisifasi secara aktif dalam proses pembangunan dan globalisasi. Oleh karena itu mereka cenderung melihat sikap-sikap mental, kreatifitas, budaya dan paham teologi sebagai pokok permasalahan.
3.       Revivalis-fundamentalis
Menjelaskan tentang faktor dalam ( internal ) dan faktor luar (eksternal) sebagai dasar analisis penyebab kemunduran islam.
Umat tslam terbelakang karena mereka justru menggunakan ideologi atau “isme” yang lain sebagai dasar pijakan daripada menggunakan Al-Qur’an sebagai acuan dasar. Pandangan ini ini berangkat dari asumsi bahwa Al-Qur’an pada dasarnya telah menyediakan petunjuk secara komplit, jelas, dan sempurna sebagai dasar bermasyarakat dan bernegara. Disamping itu, merekajuga memandang “isme” lain –maxisme, kapitalisme, dan zionisme—sebagai ancaman. Globalisasidan kapitalisme bagi merekamerupakan satu agenda barat dan konsep non islami yang di paksakan pada masyarakat muslim. Merekamenolak kapitalisme dan globalismekarena keduanya di nilai masuk pada paham liberalisme. Karena itulah mereka disebut kaum fundamentalisme.
4.       Transformatif
Merupakan alternatif dari ketiga respons umat islam di atas. Mereka percaya bahwa keterbelakangan umat islam disebabkan oleh ketidakadilan sistem dan struktur ekonomi, politik, dan kultur. Oleh karena itu, agenda mereka adalah melakukan transformasi terhadap struktur melalui penciptan relasi yang secara fundamental baru dan lebih adil dalam politik, ekonomi, dan kultur. Ini adalahproses panjang penciptaan ekonomi yang tidak eksploitatif, politik tanpa kekerasan, kultur tanpa dominasi dan hegemoni, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia (human right). Keadilan menjadi prinsip fundamental bagi penganut transformatif. Fokus kerja adalah mencari akar teologi, metodologi, dan aksi yang memungkinkan terjadinya transformasi sosial.
              Penganut fundamentalis merupakan analisis kritis terhadap struktur yang ada. Islam, oleh mereka, sebagai agama pembebasan bagi tertindas serta mentransformasi sistem eksploitasi menjadi sistem yang adil.Demikian empat respons umat islam terhadap globalisasi, yaitu konservatif tradisional, modernis, revivalis-fundamentalis, dan transformatif.
BAB III
PENUTUP
Demikian kita telah mengetahui empat respons umat islam terhadap globalisasi, yaitu konservatif-tradisional, modernis, revivalis-fundamentalis dan transformatif. Sedangkan sebelumnya kita telah melihat respon umat islam terhadap tradisi lokal indonesia sebagaimana telah dikatakan diatas bahwa respon umat islam terhadap tradisi dapat dibedakan menjadi dua kaum tua dan kaum muda.
Kaum tua adalah kelompok masyarakat yang cenderung mempertahankan dan bahkan melestarikan tradisi sedangkan kamu muda sebaliknya, cenderung menentang tradisi dan ingin menghapus praktik islam dalam pengaruh bid’ah dan khurafa.
DAFTAR PUSTAKA

Hakim, A. A., & Mubarak, J. (2010). Metodelogi Istudi islam. Bandung: Remaja Rosydakarya Offset.
Nasution, H. (2010). islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya Jilid 1. Jakarta: UI-Press.
P, M. M. (2010). M.qurais shihab Membumikan Kalam di Indonesia. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah2010TangerangBantenIndonesiaDaar el-Qolam Press


Tidak ada komentar:

Posting Komentar